Berita

MENAKAR GURU PEMBELAJAR

Kemdikbud akan menindaklanjuti Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) dengan kegiatan pendidikan dan pelatihan yang untuk tahun 2016 dikenal dengan Program Guru Pembelajar (PGP). Peserta Program Guru Pembelajar akan dilatih dengan 3 moda Diklat yang berbeda berdasarkan hasil UKG dengan ketentuan bahwa guru peserta UKG dengan hasil: 1) ≤ 40 akan menempuh diklat tatap muka, 2) 41 – 55 mengikuti diklat kombinasi tatap muka dan daring (online) dan 3) 56 – 70 menjadi peserta PGP dengan moda daring. Terlepas dari moda pelatihan bagi peserta PGP, satu hal yang menarik untuk ditelisik dan dikritisi bersama adalah konsep guru pembelajar itu sendiri. Guru pembelajar sederhananya bermakna guru sebagai seorang pembelajar yang senantiasa meningkatkan, memperbarui dan atau menkinikan pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan siswa. Dengan Kemdikbud menggunakan terminologi guru pembelajar untuk program tindaklanjut UKG,  maka satu pertanyaan yang muncul “Apakah guru selama ini sudah menjadi pembelajar?” Jawaban untuk pertanyaan ini bisa ditemukan dalam program atau kegiatan pengembangan profesi guru (diklat, workshop, upgrading, seminar) atau yang sekarang dilabel dengan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) serta sikap dan perilaku belajar guru dalam program/kegiatan tersebut juga pembelajarannya.

Adey, Hewitt dan Landau (2004) mencatat bahwa sejak program diklat guru pertama digulirkan di awal tahun 1970an, program PKB di Indonesia umumnya dilakukan dengan model imbas atau berantai (cascade model). Guru dan penatar di daerah diseleksi (dipilih) untuk dilatih ditingkat nasional menjadi guru inti atau instruktur nasional. Guru inti atau instruktur nasional kemudian kembali ke daerah dan sekolah masing-masing untuk mengimbaskan ke guru-guru yang lain. Walaupun PKB model cascade secara ekonomis terbukti ampuh untuk melipatgandakan pelatihan dalam artian pelatihan mampu mencapai ribuan guru dalam kurun waktu yang relatif singkat, beberapa ahli melaporkan kelemahan dari model cascade ini. Salah satu kelemahan atau dampak buruk dari model ini adalah lahirnya budaya ‘tunduk patuh’ (culture of compliance) pada otoritas dikalangan guru. Menurut Hargreaves (2003) budaya tunduk patuh ini dicirikan dengan kepatuhan absolut terhadap tuntutan ataupun perintah otoritas di atas guru. Perwujudan budaya tunduk patuh dalam konteks PKB model cascade ini bisa dilihat dari perilaku 3D (duduk, diam dan dengar) guru ketika mengikuti pelatihan. Program-program PKB dengan pendekatan dari atas ke bawah ini cenderung bersifat otoriter (authoritative) karena materi yang disampaikan narasumber atau instruktur lebih bersifat doktrin daripada ide atau konsep yang bisa dikembangkan oleh guru sesuai kebutuhan masing-masing.

Laporan Bank Dunia di tahun 2010 dan 2014 menyebutkan bahwa program atau kegiatan PKB untuk peningkatan kompetensi guru di Indonesia tidak berkesinambungan, terpotong-potong serta “satu untuk semua”. Mayoritas guru mendapatkan pelatihan hanya ketika suatu program nasional dicanangkan atau terjadi pergantian kurikulum. Sebagian besar guru yang lain mendapatkan kesempatan mengikuti PKB setelah sekian puluh tahun mengajar atau selesai dari pendidikan keguruannya. Bahkan untuk sekelompok guru (terpencil, terluar dan tertinggal) akses untuk kegiatan PKB sangat terbatas, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.  Program atau kegiatan PKB juga umumnya bersifat satu untuk semua yaitu satu macam kegiatan dan materi pelatihan untuk semua tingkatan, jenis dan kemampuan guru. Di kalangan kebanyakan guru, program PKB semacam ini tidak lebih dari sekedar “proyek” yang wajib dilaksanakan terlepas hasil atau dampak yang akan diterima oleh guru terhadap kompetensinya. Singkatnya, program-program PKB yang ada selama ini hanya menjadi kegiatan ataupun proses yang insidentil dan apa adanya sehingga hasil yang diharapkan yakni pengembangan kompetensi guru yang berujung pada peningkatan proses dan hasil belajar siswa jauh dari yang diharapkan.

Bagaimana sikap dan perilaku belajar guru dalam program/kegiatan PKB? Umumnya, guru adalah pembelajar pasif, penunggu undangan pelatihan. Pun ketika terlibat di kegiatan-kegiatan PKB, niat ataupun tujuan keikutsertaan mereka hanya untuk mendapatkan sertifikat dalam rangka pemenuhan persyaratan jabatan, kualifikasi atau sertifikasi. Partisipasi guru dalam kegiatan PKB sekedar menjadi rutinitas menggugurkan kewajiban. Tujuan dan makna belajar dalam kasus-kasus “belajar” seperti ini tereduksi, menjadi tidak bermakna dan kurang berdampak bagi peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan dengan keluhan para kepala sekolah terhadap guru-guru yang sudah sering mengikuti diklat tetapi kualitas dan performa mengajar mereka ‘masih seperti yang dulu’ bahkan untuk guru yang telah dianggap ‘profesional’ dengan sertifikat kelulusan sertifikasi yang dimilikinya. Laporan penelitian Bank Dunia melaporkan bahwa sertifikasi tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru dilihat dari hasil belajar siswa (Chu Chang, M., Shaeffer, S., Al-Samarrai, S., Ragatz, A. B., de Ree, J., & Stevenson, R. 2014).

Berkaca dari realitas yang ada, karakter guru pembelajar nampaknya belum menjadi norma umum yang dianut oleh guru. Di saat yang sama, program PKB belum mendukung atau kondusif untuk tumbuh dan berkembangkannya periaku guru pembelajar. Untuk mewujudkan guru pembelajar maka diperlukan perubahan pada sistem dan tata kelola PKB dan pada sikap dan perilaku guru. PKB mesti dilihat sebagai suatu usaha dan proses yang intensional, berkelanjutan dan sistematis sehingga guru pembelajar bukan hanya sekedar proyek dengan sejumlah modul dan standar nilai kelulusan semata. Guru pembelajar perlu ditumbuhkan, difasilitasi dan dikembangkan sebagai suatu sebagai sebuah karakter kunci pengembangan profesi guru.

 

(Abdul Rahman)

Close
Close