Artikel

PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI SENI DRAMA

Pendidikan di Indonesia belum bisa dikatakan berhasil membentuk karakter anak bangsa. Orientasi pendidikan hanya berusaha mengejar keberhasilan kelulusan formal belaka, sangat minim atas penguasaan kompetensi maupun pemecahan masalah sehari-hari yang dihadapi bangsa  (Susetyo, 2010). Sementara berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan, tetapi buta pada keadilan. Sepertinya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, kearifan lokal yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah   berubah   wujud  menjadi   hegemoni  kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan ( Hasanah, 2009). Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun manusia yang memiliki peradaban tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter.  Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses (Hasanah, 2009). Maka, untuk ‘menyelamatkan’ masa depan bangsa ini, pendidikan karakter menjadi sesuatu yang urgen  dan harus dipandang tinggi prioritasnya .

Tujuan pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, tetapi juga menciptakan manusia yang berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran setiap mata pelajaran, termasuk pembelajaran kesenian, yaitu seni budaya,seni drama/teater. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.      

            Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, termasuk ekstrakurikuler seni drama/teater, merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah melalui program pengembangan diri yang dilaksanakan setiap hari Sabtu. Kegiatan pengembangan diri ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter,  adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kementerian Pendidikan Nasional ,2010).Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran setiap mata pelajaran, termasuk pembelajaran kesenian, yaitu seni drama/teater.

Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, termasuk ekstrakurikuler drama/teater, merupakan salah satu media yang  potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan kstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.

Secara umum, ada lima hal yang layak diperhatikan dalam membangun pendidikan berkarakter, yaitu keteladanan, pembiasaan, nasihat, pengawasan, dan hukuman (Khoirudin Bashori melalui Arifin, 2010). Dalam hal keteladanan, seorang guru, orang tua, maupun masyarakat harus senantiasa menampakkan dan memberikan teladan yang baik kepada anak. Dalam hal pembiasaan, dimaksudkan, setelah anak diberi contoh yang baik, kebaikan itu harus dibiasakan bersama-sama. Membiasakan kebaikan bukanlah hal yang mudah, apalagi di lingkungan tersebut kebaikan itu jarang dilakukan oleh teman sejawatnya. Selanjutnya, terkait dengan pengawasan, orang tua/guru perlu melakukan pengawasan terhadap anak,baik secara langsung atau tidak langsung,tetapi jangan sampai anak merasakan tidak nyaman  karena pengawasan yang terlalu ketat. Sedangkan pemberian hukuman diharapkan tidak sampai melanggar hak asasi anak namun menimbulkan efek jera.

Betapa penting pendidikan karakter dalam kerangka mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, karakter menjadi salah satu tujuan dari proses pendidikan. Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Manusia memiliki bermacam-macam karakter atau sifat, seperti misalnya baik hati, sombong, pemarah, pemaaf, pelit, hemat, boros, dan lain sebagainya. Bahkan ada lebih dari belasan ribu kata yang digunakan untuk menggambarkan karakter dan sifat manusia.

1. Pengertian Karakter

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”.

Secara umumhanya ada dua jenis karakter manusia ,yaitu baik dan buruk. Jika ada orang yang membawa keberuntungan atau baik bagi kita, maka kita akan menyebutnya sebagai baik. Sebaliknya bila ada orang yang menyusahkan kita atau merugikan kita, maka kita akan menyebutnya sebagai buruk. Pribadi itu suatu totalitas, yang menjadi sentral; sedang karakter merupakan bagian dari kepribadian manusia. Karakter itu bentuk organisasi dari kehidupan perasaan, pengenalan dan kehendak yang diarahkan pada sistem nilai; dan diekspresikan dengan relatif konsekuen pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan satu sistem nilai yang hendak dikejar (Kartono, 2005: 61). Karakter lebih merupakan aspek etis (aspek susila/moral) dari kemanusiaan. Apa yang dikejar oleh manusia, apa yang menjadi tujuannya, ke arah mana ia memastikan diri, semua itu menunjukan objek-objek final. Maka karakter itu merupakan segi final dari kepribadian yang mengandung unsur-unsur etis.Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

2. Pendidikan  Karakter

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan yang bermartabat.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

     2.1 Dasar hukum dalam pembinaan pendidikan karakter antara lain:

  1. Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen
  2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

               a. Permendiknas No 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan

               b. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi

               c. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan

               d. Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014

               e. Renstra Kemendiknas Tahun 2010-2014

               f. Renstra Direktorat Pembinaan SMP Tahun 2010 – 2014

     2.2 Prinsip-Prinsip Pendidikan Karakter

     Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter
  2. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku
  3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter
  4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian
  5. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik
  6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses
  7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para peserta didik
  8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama
  9. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter
  10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter
  11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter posisitf dalam kehidupan peserta didik.

3.  Seni Drama

               Drama pada hakekatnya adalah life presented in action (Moulton melalui Harymawan, 1993: 1). Drama tertulis (lakon) adalah salah satu bentuk sastra yang sengaja ditulis atau dibuat khusus untuk dipanggungkan (Oemarjati, 1971: 12). Setiap lakon merupakan cerita yang dikarang dan disusun untuk dipertunjukkan oleh para pelakunya di atas panggung di depan publik (Brahim, 1968: 52). Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience) (Harymawan, 1993: 2).Sebagai seni pertunjukan, drama berhasil dijelmakan oleh sebuah kerja kolektif. Kerabat kerja (crew) yang terlibat di dalamnya adalah: produser (jika diperlukan)(: orang yang bertugas mendanai segala biaya produksi), sutradara (: pimpinan artistik tertinggi yang menafsirkan lakon untuk diterjemahkan menjadi pertunjukan), pengarang (: orang yang bertugas menulis naskah/sastra lakon/repertoar), pemain (: orang yang bermain di dalam drama/aktor/aktris), penata pakaian (: orang yang bertugas mendesain/menata kostum yang akan dikenakan oleh pemain), penata dekor (: orang yang bertugas menterjemahkan kemudian mewujudkan keinginan sutradara mengenai setting panggung/pentas dari drama yang akan digelar), penata rias (: orang yang bertugas mewujudkan riasan wajah pemain sesuai dengan karakter masing-masing yang diinginkan dalam naskah), penata lampu (: orang yang bertugas mendesain dan bertanggung jawab urusan penyinaran dan pencahayaan di pentas), penata musik (: orang yang bertanggung jawab memberi iringan musik untuk setiap adegan), stage manager (: orang yang pada saat pertunjukan berlangsung bertanggung jawab atas kelancaran pertunjukan, yakni memimpin crew teknik), dan petugas publikasi, penjual karcis, pengatur penonton (jika dikehendaki/diperlukan)(Ramelan, 1980: 25-37).

4. Hubungan seni Drama dengan  Pendidikan Karakter

                 Pendidikan karakter tidak hanya  diajarkan melalui mata pelajaran di dalam kelas saja. Pendidikan karakter harus diterapkan melalui kegiatan-kegiatan pembiasaan, baik secara spontan maupun dengan keteladanan. Ketika peserta didik menggeluti seni drama/teater, baik sebagai karya seni sastra maupun sebagai karya seni pertunjukan, mereka akan menemukan fungsi ruang dan waktunya demi terdidiknya karakter . Mereka akan merasakan dan menghayati keselarasan dan keindahan drama itu, serta memiliki pengalaman jiwa ikut merasakan dan menghayati pergolakan batin atau konflik-konflik yang terjadi di kalangan manusia, entah itu konflik manusia yang satu dengan manusia yang lain, manusia dengan lingkungannya, manusia dengan alam, bahkan mungkin manusia dengan penguasa, bahkan mungkin dengan Tuhan.

Peserta didik akan memiliki pandangan yang relatif mendalam tentang sifat-sifat watak manusia serta hidup dan kehidupannya. Melalui lakon atau pergelaran drama, mereka mendapatkan pemahaman tentang psikologi watak-watak manusia. Dan akhirnya mereka akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mendasar tentang sifat-sifat manusia lain (pada umumnya) dan tentang dirinya sendiri.  Peserta didik mendapatkan keuntungan dengan mempelajari perilaku dan kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya dalam diri mereka, membuat hidup mereka lebih bahagia dan lebih produktif. Demikian juga manfaat yang dapat dirasakan oleh pendidik yaitu lebih memudahkan dalam pemberian materi selama proses pembelajaran karena peserta didiknya memiliki sikap disiplin yang cukup tinggi. Para wali murid bergembira ketika anak-anak mereka belajar untuk menjadi lebih sopan, memiliki rasa hormat dan produktif. Para pengelola sekolah akan menyaksikan berbagai macam perbaikan dalam hal disiplin, kehadiran, pengamalan nilai-nilai moral bagi peserta didik maupun guru di lingkungan sekolah”.

 

Daftar Pustaka

Arifin, Zainal. 2010. ‘Membangun Pendidikan Berkarakter’. derizzain@yahoo.co.id. Diunduh  

                    pada 11 April 2011.

Doni A. Koesoema, Pendidikan Karakter, strategi mendidik anak di zaman global, Jakarta, PT

                   Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007, h, 218-220

Kementerian Pendidikan Nasional. 2010.Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah

              Pertama. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat

              Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pusat kurikulum, pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa, Jakarta: Badan

                 Litbang, Kementrin Pendidikan Nasional, 2010, h, 9-10.

Suyanto. 2009. ’Urgensi Pendidikan Karakter’. http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/

                 web/pages/urgensi.html . Diunduh pada 10 April 2011.

http://karakterbangkit.blogspot.com/2009/12/pendidikan-berbasis-karakter.html. Senin, 14

                  Desember 2009. Diunduh pada 10 April 2013.

 

 

                                                                        ~  Nur Aulia Hafid (WI LPMP SulSel) ~

PERANCANGAN KUESIONER (QUETIONER DESIGN) UNTUK PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

Dalam suatu penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan. Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya. Sedangkan instrumen pengumpul data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka/tertutup), pedoman wawancara, camera photo, dan lainnya.

Salah satu instrumen pengumpul data yang sering digunakan dalam sebuah penelitian adalah kuesioner. Pada umumnya suatu kuesioner berisi sekumpulan pertanyaan yang tersusun secara sistematis dan standard sehingga pertanyaan yang sama dapat diajukan terhadap setiap responden. Sistematis dimaksudkan bahwa item-item pertanyaan disusun menurut logika (logical sequence) yang sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Sedangkan standard diartikan bahwa setiap item pertanyaan mempunyai pengertian yang sama.

1. Perencanaan Kuesioner

Dalam penyusunan kuesioner, daftar pertanyaan perlu dikembangkan dengan teliti dan dicoba sebelum benar-benar diterapkan. Oleh sebab itu dalam mempersiapkan suatu kuesioner perlu memperhatikan jenis pertanyaan, bentuk pertanyaan, pemilihan kata-kata dan juga urutannya. Kesalahan yang sering terjadi adalah pada jenis pertanyaan yang tidak bisa dijawab, atau tidak perlu dijawab, dan malahan tidak mencantumkan pertanyaan yang seharusnya dijawab. Hendaknya setiap pertanyaan diperiksa sehingga bisa dilihat apakah menunjang tujuan penelitian.

Usaha untuk membuat kusioner suatu penelitian yang baik diarahkan pada dua tujuan utama yaitu:

  • Memperoleh data yang berhubungan dengan maksud dan tujuan penelitian
  • Mengumpulkan informasi dengan kecermatan dan ketelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk memenuhi tujuan pertama rancangan kuesioner harus betul-betul sesuai dengan lingkup topik yang diselidiki. Informasi yang dikumpulkan harus berupa fakta dan bersifat objektif, sesuai dengan tujuan survei. Selain itu pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya ditujukan kepada responden yang diketahui berhak dan mampu menjawabnya. Sedangkan tujuan kedua, untuk tingkat ketelitian informasi yang dikumpulkan dapat diperoleh apabila kuesioner disusun secara sederhana, mudah dimengerti serta adanya keseragaman peristiwa dan petunjuk pengisiannya.

Meskipun bukan merupakan satu-satunya alat pengumpulan data, tetapi kuesioner adalah alat yang efektif untuk berbagai macam cara pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan maupun mailing system. Keuntungan penggunaan kuesioner dalam suatu survei dibandingkan dengan alat yang lain adalah dapat diperolehnya data standar yang dapat dipertanggungjawabkan untuk keperluan analisis yang menyeluruh tentang karakteristik populasi yang diselidiki.

 2. Bentuk Pertanyaan

Bentuk pertanyaan dibedakan atas pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Perbedaan antara pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup terletak pada tingkat kebebasan responden menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. Pertanyaan terbuka memungkinkan responden memberikan jawaban yang dikehendakinya dengan kata-kata yang dipilihnya sendiri. Sedangkan pertanyaan tertutup membatasi jawaban responden dengan keharusan diantara jawaban-jawaban yang sudah tercantum dalam kusioner.

  • Pertanyaan Tertutup

Ada dua macam bentuk sederhana dari pertanyaan tertutup, yaitu pilihan dwicabang dan pilihan ganda

  1. Pertanyaan Pilihan dwicabang (Dichotomy)

Dalam pertanyaan pilihan dwicabang, suatu pertanyaan telah diberikan dua alternatif jawaban

Contoh 1:

Apakah dalam satu tahun terakhir bapak/ibu mendapatkan pelatihan?

          []  Ya                              []  Tidak

Dari contoh diatas hanya diberikan dua alternatif jawaban ya dan tidak.

Contoh 2:

Dimanakah bapak/ibu bertugas?

          [] Di kecamatan tempat tinggal                          [] di luar kecamatan tempat tinggal

     2. Pertanyaan pilihan ganda

Pada pertanyaan pilihan ganda, dalam satu pertanyaan diberikan lebih dari dua alternatif jawaban, seperti pada contoh berikut:

Contoh 3:

Apakah pekerjaan istri/suami bapak/ibu?

       [] 1. Tidak bekerja                                    [] 5. Nelayan

       [] 2. Wiraswasta                                       [] 6. PNS/TNI/BUMN

       [] 3. Karyawan swasta                            [] 7. Pedagang

       [] 4. Petani                                                 [] 8. Lainnya

Syarat yang harus dipenuhi pada pertanyaan pilihan dwicabang  dan ganda adalah apabila dikehendaki pembedaan yang tegas antara dua atau lebih alternatif jawaban, maka jelas harus dipakai pertanyaan pilihan dwicabang atau pilihan ganda. Sebagai dasar analisis dari kedua cara ini adalah penghitungan frekuensi untuk setiap jawaban.

Para peneliti seringkali memulai penyelidikannya dengan dugaan bahwa suatu pilihan jawaban tertentu lebih disukai responden daripada pilihan jawaban yang lain. Dari penghitungan frekuensi dapat pula diuji apakah proporsi dari pilihan-pilihan jawaban sejalan dengan harapan atau dugaan peneliti sebelumnya.

Anggapan-anggapan yang dipakai bagi syarat sahnya data yang diperoleh dari pertanyaan pilihan dwicabang atau pilihan ganda adalah bahwa pilihan-pilihan jawaban yang diberikan dalam daftar pertanyaan harus saling asing (mutually exclusive) dan lengkap.

Saling asing artinya responden harus memilih satu dan hanya satu dari pilihan yang diberikan, sedangkan lengkap artinya pilihan-pilihan jawaban yang diberikan harus lengkap meliputi semua kemungkinan jawaban yang ada.

Perhatikan contoh berikut ini:

Contoh 4:

Termasuk kategori yang mana umur bapak/ibu (dalam tahun)?

       [] 1. 20 – 30                                                     [] 3. 40 - 50

       [] 2. 30 – 40                                                     [] 4. 50 – 60

Kategori umur pada teladan di atas selain tidak saling asing (adanya batas kelas yang berulang) tetapi juga tidak lengkap tidak ada perincian bagi mereka yang berumur di bawah 20 tahun. Penggolongan umur di atas dapat dirubah menjadi:

       [] 1. Kurang dari 20                                         [] 4. 40 - 49

       [] 2.   20 – 29                                                   [] 5.   ≥ 50

       [] 3.   30 – 39

 

 

  • Pertanyaan Terbuka

Bentuk pertanyaan terbuka umumnya dapat dibagi menjadi empat yaitu:

         1) Pertanyaan pendahuluan

Contoh 5: Bagaimana kesan bapak/ibu terhadap pelayanan diklat terakhir yang bapak/ibu ikuti?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

       2) Permintaan saran

Contoh 6: Menurut bapak/ibu apakah yang seharusnya dilakukan oleh pendidik agar penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat dilakukan secara efektif dan efisien?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

       3) Petunjuk untuk membuka daya ingat responden

Contoh 7: Apakah yang bapak/ibu ketahui tentang penilaian autentik?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

       4) Pertanyaan yang bersifat menyelidik

Contoh 8: Selain gaji tetap per bulan, adakah penghasilan lain diluar gaji?

Sebutkan!

Pertanyaan terbuka mempunyai kelebihan sebagai berikut:

1) Memungkinkan diperolehnya jawaban yang spontan dan bebas. Dalam menjawab pertanyaan ini responden dapat mengikuti jalan pikirannya sendiri dengan menggunakan kata-katanya sendiri.

2) Bermanfaat untuk menjajaki jawaban responden terutama yang menyangkut segi kualitatif (pendapat, sikap, dan aspirasi responden)

3) Untuk segi kuantitatif jenis pertanyaan ini juga bermanfaat untuk memperoleh rentang nilai yang diperlukan seperti: biaya sewa rumah, pendapatan, dan lain-lain.

3) Memberikan pemanasan (warming up) terutama apabila topik penelitian merupakan hal yang baru bagi responden dan mereka hampir tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang bahan penelitian. Dalam hal yang demikian pertanyaan tertutup akan memberikan hasil yang menyesatkan.

Disamping memiliki kelebihan-kelebihan, jenis pertanyaan terbuka juga memiliki kekurangan antara lain:

1) Bentuk pertanyaan terbuka biasanya memakan waktu lebih lama pada saat pencacahannya/pengisiannya.

2) Untuk keperluan analisis perlu dilakukan pengelompokan terhadap jawaban-jawaban responden. Hal ini kadang-kadang sulit dilakukan apabila variasi jawaban responden sangat besar.

3) Cenderung menimbulkan bias yang bersumber dari responden akibat salah tafsir dari salah satu pihak. Atau bias dalam pengolahan data yang disebabkan oleh pemberian bobot yang tidak sesuai untuk jawaban pada waktu pengelompokan.

 

3. Kalimat Pertanyaan

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kalimat pertanyaan antara lain:

1) Pertanyaan mudah dimengerti baik oleh responden maupun pencacah

2) Setiap pertanyaan mempunyai satu arti yang tepat/unik. Tidak ada arti lain bagi pertanyaan tersebut yang mengakibatkan pengertiannya menjadi kabur.

3) Susunan pertanyaan secara keseluruhan mengikuti jalan pikiran yang urut dan lengkap.

4) Mudah dalam pengelolaan datanya.

5) Setiap pertanyaan harus bermanfaat sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.

Dalam pemilihan kata, bahasa yang dipakai dalam pertanyaan harus sederhana, mudah dimengerti dan kalimatnya tidak terlalu panjang. Dalam hal ini harus diperhatikan kata-kata yang mempunyai pengertian sehari-hari di masyarakat.

Contoh 9: Berapa pendapatan saudara?

Kata-kata saudara disini ditunjukkan kepada responden, pribadi atau keluarganya? Kapan saat yang dimaksud? Seminggu yang lalu, sebulan yang lalu atau setahun sebelum penelitian. Kemudian apa yang dimkasud dengan “pendapatan” di samping gaji, atau upah; apakah penghasilan dari sumber lain seperti sewa rumah, atau laba jual mobil termasuk pengertian pendapatan ini?

Dalam menyusun kalimat pertanyaan pada daftar pertanyaan harus dihindari dua pertanyaan atau lebih dalam satu kalimat. Pertanyaan semacam ini akan membingungkan responden. Responden menjadi bingung untuk menjawab jenis pertanyaan tersebut.

4. Susunan Item Dalam Daftar Pertanyaan.

Tujuan penelitian yang diwujudkan dalam bentuk pertanyaan harus disusun menurut urutan yang logis/masuk akalagar tidak akan berpengaruh buruk bagi mutu data yang dihasilkan. Pertanyaan hendaknya dirancang untuk membangkitkan minat responden menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang loncat dari hal yang satu ke hal yang lain yang tidak bersangkutan membuat bingung dan bosan. Urutan pertanyaan harus jelas dan mudah pengisiannya, instruksinya pun harus jelas, kapan dan bagaimana mengalihkan pertanyaan yang satu ke pertanyaan yang lain. Kepentingan utama peneliti adalah diperohnya data yang bermutu tinggi, oleh karena itu urutan pertanyaan seharusnya tidak menimbulkan bias.

5. Penyajian Kuesioner

Hal- hal yang dijadikan pertimbangan tata letak daftar pertanyaan adalah penampilan. Penampilan yang ditunjukkan pada bagian luar daftar pertanyaan mempengaruhi sikap responden terhadap minat untuk wawancara. Kesan pertama yang diakibatkan oleh bentuk daftar pertanyaan yang tidak rapi dan kotor menyebabkan responden enggan untuk diwawancarai. Tata letak daftar pertanyaan juga harus memudahkan proses pengolahan data. Hal ini sangat melelahkan untuk mencari isian daftar pertanyaan yang tidak teratur letaknya untuk dipindahkan ke lembar kerja dalam pengolahan manual. Selain tata letak, petunjuk pengisian juga sangat penting. Untuk memudahkan pengisian, setiap item pertanyaan diberi nomor urut. Petunjuk diberikan langsung pada item pertanyaan yang bersangkutan atau di halaman depan. Petunjuk berisikan konsep dan definisi serta cara pengisian. Kertas yang dipakai sebaiknya yang bermutu baik, tidak terlalu tipis atau terlalu tebal. Dapat pula digunakan warna kertas yang berlainan untuk masing-masing kelompok pertanyaan. Nomor dan huruf cetakan harus rapi dan mudah dibaca.

6. Uji Coba

Satu hal yang penting adalah uji coba kuesioner, yaitu mencoba item-item pertanyaan yang telah dirancang dalam keadaan yang sebenarnya. Apakah bahasanya bisa dimengerti, tidak terlalu panjang, dan susunan item sudah efisien. Hasil uji coba ini dapat dipakai untuk memperbaiki istilah, kalimat maupun susunan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Daftar Pustaka

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Modul Diklat Teknis Manajemen Pendataan, Jakarta, 2015.

 

                                                                                                -           Ainun Farida (WI LPMP SulSel)      -

Jurnal Ilmu Kependidikan

Jurnal Ilmu Kependidikan LPMP Sulawesi Selatan nomor ISSN 1829-569X terbit secara berkala setiap tahun (terbit 3 kali) dan  terakhir terbit dengan volume 8, nomor 1, di tahun 2011. Namun, jurnal tersebut beberapa tahun tidak terbit karena alasan teknis. Atas saran dari beberapa orang widyaiswara dan dukungan pejabat struktural, jurnal tersebut kami terbitkan kembali di tahun 2016 ini dan disimpan pada Webside LPMP Sulawesi Selatan.

Dalam Jurnal Ilmu Kependidikan ini, disajikan delapan tulisan yang isinya merangkum pemikiran tentang upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kedelapan tulisan tersebut adalah (1) Penerapan Prinsip Pembelajaran yang Inovatif dalam Kegiatan Pembelajaran, (2) Implementasi Discovery Learning dalam Pembelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas (SMA), (3) Pengembangan Model Bahan Ajar Diklat Keterampilan Menulis  Publikasi Ilmiah Berbasis Metode Hypnoteaching Bagi Guru Bahasa Indonesia SMP di Sulawesi Selatan, (4) Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Kontekstual, (5) Inseminasi Buatan dalam Meningkatkan Mutu Genetik Ternak, (6) Program Pendidikan Jasmasi dan Olahraga di Sektor Publik.

Semoga karya tulis yang dimuat dalam Jurnal Ilmu Kependidikan ini memberikan manfaat kepada para pembaca. Dengan demikian, akan berkontribusi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di negeri kita ini.

Close
Close