Oleh

A.  MULIATI AM

Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan


Kepala sekolah dalam meningkatkan profesonalisme guru diakui sebagai salah satu faktor yang sangat penting dalam organisasi sekolah, terutama tanggung jawabnya dalam meningkatkan proses pembelajaran di sekolah (Gorton & Schneider, 1991).  Beberapa pendapat menunjukkan bahwa sekolah efektif merupakan hasil dari tindakan kepala sekolah efektif.

Hasil penelitian menunjukkan keefektifan sekolah membuktikan bahwa sekolah efektif (effective schools) mempersyaratkan kepemimpinan pembelajaran yang tangguh (strong instructional leadership) dari kepala sekolahnya, di samping karakteristik-karakteristik lainnya, seperti harapan yang tinggi dari prestasi murid, iklim sekolah yang positif bagi kegiatan belajar mengajar dan monitoring kemajuan belajar mengajar yang berkelanjutan (Davis & Tomas, 1989, Smith & Andrew, 1989).  Dari hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa munculnya sekolah berperetasi, yang juga sering disebut sebagai sekolah yang berhasil (successful schools), atau sekolah unggul, tidak dapat dipisahkan dari peran yang dimainkan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan keefektifan sekolah membuktikan bahwa sekolah efektif (effective schools) mempersyaratkan kepemimpinan pembelajaran yang tangguh (strong instructional leadership) dari kepala sekolahnya, di samping karakteristik-karakteristik lainnya, seperti harapan yang tinggi dari prestasi murid, iklim sekolah yang positif bagi kegiatan belajar mengajar dan monitoring kemajuan belajar mengajar yang berkelanjutan (Davis & Tomas, 1989, Smith & Andrew, 1989).  Dari hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa munculnya sekolah berperetasi, yang juga sering disebut sebagai sekolah yang berhasil (successful schools), atau sekolah unggul, tidak dapat dipisahkan dari peran yang dimainkan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran sebaiknya menginstropeksi diri apakah mereka sudah memiliki sikap  dan kemampuan yang digambarkan oleh kepemimpinan efektif tersebut diatas.  Bila belum, hendaklah berusaha secara berangsur-angsur menerima diri sendiri untuk memiliki sikap dan kemampuan yang professional.  Pada tahun 1985 Rutherford meperkecil daftar menjadi tiga perilaku yang bedakan efektif kepala sekolah dari yang kurang efektif.

  1. Memiliki "jelas, visi dan misi mengenai apa yang mereka inginkan sekolah untuk menjadikan visi yang fokus pada siswa dan kebutuhan mereka "
  2. "Terjemahkan visi dan misi tersebut menjadi tujuan bagi sekolah mereka dan harapan bagi para guru mereka, siswa, dan staf "
  3. Janganlah mundur dan menunggu untuk hal-hal terjadi, tetapi "terus menerus memonitor kemajuan

Kenyataan di lapangan jika dicermati dengan baik, menunjukkan bahwa peran penting kepala sekolah nampaknya belum diimbangi dengan kemampuan professional yang memadai.  Dalam kondisi seperti ini, kepala sekolah lebih tampil sebagai peñata laksana sekolah daripada sebagai pemimpin yang menakhodai, sekolah sebagai lembaga yang bermisi menjemput masa depan (Joni, 1998).

Kepala Sekolah Efektif

Kepeminpinan efektif berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi kondusif.  Perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.  Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk bekerjasama dalam kelompok dalam rangka mencapai tujuan sekolah/institusi.

Tugas utama yang diemban oleh seorang kepala sekolah adalah memimpin jalannya proses belajar mengajar di sekolah menuju pencapaian hasil belajar yang maksimal.  Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah bertanggung jawab atas prestasi atau hasil belajar siswa di sekolah yang dipimpinnya.  Dalam kajian mengenai sekolah yang efektif, tanggung jawab langsung untuk memajukan dan meningkatkan pembelajaran di sekolah adalah kepala sekolah.

Tujuh langkah kepemimpinan pembelajaran yang efektif menurut McEwan (2002) dengan mengembangkan konsep kepemimpinan pembelajaran yang lebih operasional dengan tujuh langkah kepemimpinan pembelajaran lengkap dengan indikatornya seperti berikut ini.

1.      Menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas

(a)  Melibatkan guru-guru dalam mengebangkan dan menerapkan tujuan dan sasaran pembelajaran sekolah.

(b) Mengacu kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah/system pendidikan dalam mengembangkan program pembelajaran.

(c)  Memastikan aktivitas sekolah dan kelas konsisten dengan tujuan pembelajaran.

(d)  Mengevaluasi kemajuan  pencapaian  tujuan pembelajaran

2.      Menjadi Nara sumber bagi staf

(a)  Bekerjasama dengan guru untuk untuk memperbaiki program pembelajaran di dalam kelas sesuai dengan kebutuhan siswa

(b) Membuat program pengembangan pembelajaran yang didasarkan atas hasil penelitian dan praktik yang baik

(c)  Menerapkan prosedur formatif yang baik dalam mengevaluasi program pembelajaran

3.      Menciptakan Budaya dan iklim sekolah yang kondusif bagi pembelajaran

(a)  Menciptakan kelas-kelas inklusif yang memberi kesan bahwa di dalamnya semua siswa boleh belajar

(b)  Menyediakan waktu yang lebih panjang untuk belajar (dalam kelas tersebut) bagi siswa-siswa yang membutuhkannya

(c)   Mendorong agar guru berperilaku positif dalam kelas sehingga membuat iklim pembelajaran baik dan tertib dalam kelas

(d)  Menyampaikan pesan-pesan kepada siswa dengan berbagai cara bahwa mereka bisa sukses

(e)  Membuat kebijakan yang berkaitan dengan kemajuan belajar siswa (pekerjaan rumah, penilaian, pemantauan kemajuan belajar, remediasi, laporan hasil belajar, kenaikan/tinggal)

Pertama, Menetapkan sasaran prestasi siswa yang akan dikomunikasikan secara langsung kepada siswa, guru dan orang tua.

Kedua, Menetapkan aturan yang jelas mengenai waktu penggunaan kelas untuk pembelajaran dan monitor waktu efektif penggunaannya.

Ketiga, Menetapkan, laksanakan, dan evaluasi prosedur dan aturan untuk menangani dan menegakkan masalah-masalah disiplin bersama dengan guru dan siswa (sebagaimana  mestinya).

4.      Mengkomunikasikan visi dan misi sekolah ke staf

(a)    Melakukan komunikasi dua arah secara sistimatis dengan staff tentang tujuan dan sasaran lembaga (sekolah)

(b)  Menetapkan, mendukung, dan melaksanakan aktivitas yang mengkomunikasikan kepada siswa tentang nilai dan arti belajar

(c)  Mengembangkan dan gunakan saluran-saluran komunikasi dengan orang tua untuk menyampaikan tujuan-tujuan sekolah yang telah ditetapkan

5.      Mengkondisikan staf untuk mencapai cita-cita profesional tinggi.

(a)  Melibatkan diri Anda mengajar secara langsung di kelas

(b) Membantu guru-guru dalam mengupayakan dan mencapai keinginan profesionalnya yang brtkaitan dengan pembelajaran sekolah dan pantau apakah keinginannya itu terwujud

(c)  Melakukan observasi terhadap semua kelas secara teratur, baik secara informal atau formal

.........

Artikel Selengkapnya silahkan di download dari tautan di bawah





Melibatkan diri Anda dalam persiapan observasi kelas

(e)  Melibatkan diri Anda dalam rapat-rapat yang membahas hasil observasi terutama yang menyangkut perbaikan pembelajarani.

(f)   Melakukan evaluasi yang mendalam, bertanggungjawab, mengarahkan,dan memberi rekomendasi bagi pengembangan pribadi dan profesi sesuai dengan kebutuhan individu

6.      Mengembangkan kemampuan profesional guru

(a)  Membuat jadwal, rencana, atau fasilitasi berbagai rapat (perencanaan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau pelatihan dalam jabatan) guru yang membicarakan isu-isu pembelajaran.

(b) Memberi kesempatan guru untuk mengikuti pelatihan tentang kolaborasi, membuat keputusan bersama, coaching, mentoring, pengembangan kurikulum, dan presentasi

(c)  Memberi motivasi dan suberdaya pada guru untuk berpartisipasi dalam aktivitas pengembangan profesional

7.      Bersikap positif terhadap siswa, staf, dan orang tua.

(a)  Melayani siswa dan berkomunikasilah dengan mereka mengenai berbagai aspek kehidupan sekolah mereka

(b) Berkomunikasi dengan dengan semua staff dilakukan secara terbuka dengan menghormati perbedaan pendapat yang ada

(c)  Menunjukan perhatian terhadap masalah-masalah siswa, guru, dan staf dan libatkan diri dalam pemecahan masalah mereka seperlunya

(d)  Menunjukkan kemampuan hubungan interpersonal dengan semua pihak

(e)  Selalu menjaga moral yang baik

(f)    Selalu tanggap terhadap apa yang menjadi perhatian staf, siswa, dan orang tua