Imran, This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 I. Pendahuluan


Lesson study merupakan upaya mengkaji pembelajaran untuk meningkatkan kualitas belajar yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Menurut Makoto Yoshida, lesson study adalah proses pengembangan kegiatan inti yang dipraktikan guru secara berkelanjutan agar dapat memperbaiki mutu pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran yang difasilitasi guru.

Lesson study menjadi model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran yang berkolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan  prinsip kolegalitas dan mutuallearning untuk membangun masyarakat belajar sehingga diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran maupun pengembangan kurikulum. Di Indonesia, Lesson Study dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu : Lesson study berbasis Musyawaran Guru Mata Pelajaran ( LS-MGMP) dan lesson study berbasis sekolah (LSBS). LS-MGMP dilakukan oleh para guru yang mengajar mata pelajaran yang sama yang berasal dari berbagai sekolah, biasanya yang berada dalam satu kecamatan, sedangkan LSBS adalah kegiatan lesson study yang dilakukan oleh sekolah dan yang menjadi peserta adalah para guru disekolah tersebut.


Kendala yang sering dihadapi oleh para guru dalam melaksanakan Lesson study adalah terkait penjadwalan. Jadwal perlaksanan open class sering bersamaan atau beririsan dengan jadwal mengajar para guru yang bertugas sebagai observer(pengamat). Kendala lain adalah kenyamanan belajar dari siswa yang diobservasi menjadi terganggu sehingga kehilangan konsentrasi karena kehadiran para observer di dekat mereka. Faktor lain yang menjadi kendalah adalah daya tampung ruangan yang hanya didesain untuk pembelajaran siswa, sehingga jika dilakukan lesson study ruangan tersebut menjadi sempit dan penuh sesak dan mengganggu kenyamanan belajar para siswa. Sehingga tantangan yang dihadapi adalah bagaimana merancang pelaksanaan Lesson study dapat dilaksanakan secara efektif?


Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, maka dirancanglah konsep lesson study yang memanfaatan TIK. Rancangan ini diharapkan mengatasi jadwal pelaksanaan Lesson study tidak bermasalah lagi dengan jadwal mengajar guru observer, serta diharapkan kenyamanan belajar siswa yang diobservasi tetap terjaga karena para observer dapat melakukan pengamatan diruang kerja masing-masing.

 II. Pelaksanaan Lesson Study

Lesson study dilaksanakan dengan tiga tahapan utama yaitu :

  1. Plan (perencanaan)

Pada tahap ini, disusun rencana pelaksanaan lesson study, mulai dari penentuan materi, pembuatan, RPP, penyiapan bahan ajar, media, strategi, evaluasi penentuan guru model yang akan melaksanakan pembelajaran dan guru yang akan melaksanakan pengamatan pembelajaran.


  1. 2. Do (pelaksanaan)


Tahap ini ada dua kegiatan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru model dan kegiatan pengamatan pembelajaran oleh para pengamat yang ditunjuk untuk merekam semua aktifitas yang dilakukan oleh para siswa dan guru model. Pengamatan detail terhadap proses belajar mengajar di kelas meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, efisiensi penggunaan waktu, respon siswa, metode pembelajaran, media yang digunakan, bahan ajar, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), evaluasi dan penutup.

3. See (refleksi)

Tahap ini adalah tahapan terakhir dimana semua tim berkumpul untuk mendiskusikan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru model dan telah diamati oleh para pengamat. Proses pelaksanaan diskusi dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi notulen untuk mencatat hasil diskusi. Diharapkan dari diskusi tersebut diidentifikasi hal-hal yang positif yang dapat dipertahankan untuk pembelajaran berikutnya dan juga mengidentifikasi apa kekurangan saat pembelajaran untuk dicari solusinya sehingga dapat dipetik pelajaran yang berharga untuk diimplementasi pada proses belajar berikutnya.


Gambar 1.  Siklus dalam proses lesson study.


Pengalaman di lapangan pada saat pelaksanaan lesson study di beberapa sekolah yang dilakukan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah :

-            Kenyamanan ruangan belajar pada saat open class karena kehadiran para pengamat untuk mengamati proses belajar.

-            Sering terjadi para siswa maupun guru model merasa canggung dan gugup ketika diamati secara langsung.

-            Para guru yang menjadi pengamat sering tidak hadir karena pada saat bersamaan masih mengajar.

-            Guru dari sekolah lain sering datang terlambat karena jarak dari sekolah masing-masing ke sekolah penyelenggara yang jauh.




Gambar 2. Situasi open class tanpa menggunakan TIK.





  1. III. Pelaksanaan Lesson Study dengan TIK


Pemanfaatan TIK dalam proses lesson study berfokus pada tahap do, yaitu pada saat pelaksanaan pembeIajaran oleh guru model dan pengamatan oleh pengamat. Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan sebelum mengimplementasikan TIK dalam proses lesson study, yaitu :

  1. A. Benefits (keunggulan)

Manfaat yang dapat diperoleh dengan implementasi TIK pada saat lesson study :

-          Mengurangi perasaan grogy siswa saat proses belajar karena para pengamat tidak berada di dalam ruangan yang sama.

-          Member keleluasaan kepada guru model untuk mengaplikasikan rencana pembelajaran karena tidak berinteraksi langsung dengan pengamat.

-          Kenyamanan ruangan lebih terjaga karena yang berada di kelas hanya para siswa dan guru model.

-          Proses belajar ketika open class dapat dilihat kembali melalui rekaman yang didistribusi pada computer masing-masing observer.

-          Komunitas sekolah akan memperoleh dampak yang positif terhadap budaya penggunaan TIK sehingga diharapkan menciptakan komunitas belajar yang berbasis TIK.

-          Adanya media komunikasi baru lintas sekolah anggota MGMP.

B. Weakness (kelemahan)

-          diperlukan biaya investasi awal untuk penyiapan peralatan

-          Komunitas di MGMP harus memiliki pemahaman dasar terkait pemanfaatan ICT

-          Untuk jarak sekolah yang jauh (diperlukan koneksi internet)

-          Diperlukan biaya pemeliharaan

  1. C. Opportunities (peluanag)

Beberapa kabupaten dan kota di Indonesia, telah terhubung dalam jejaring pendidikan nasional (Jardiknas) yang dimotori oleh ICT Center dan Dinas pendidikan masing-masing, sehingga para komunitas guru di MGMP dapat berkoordinasi untuk memanfaatkan jejaring tersebut.

  1. D. Threats (hambatan)

-          Lemahnya wawasan dalam penggunaan TIK

-          Kurangnya dukungan dari pemangku kepentingan yang terkait

  1. IV. Desain LS-MGMP dengan TIK


Komunitas MGMP terdiri dari guru yang mengajar pada mata pelajaran yang sama yang berasal dari beberapa sekolah. Untuk menghubungkan masing-masing sekolah digunakan jaringan Local Area Network (LAN), untuk sekolah yang jauh dihubungkan dengan jaringan Wide Area Network (WAN) dan koneksi internet untuk sekolah yang jaraknya lebih jauh.

  1. A. Hardware (perangkat keras)

-          Ip camera dilengkapi dengan microphone yang akan dipasang di kelas yang akan digunakan untuk open class. Minimal berada pada setiap sudut ruangan untuk memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam proses pengamatan.

-          Hub/swich dan router to untuk menghubungkan LAN dan WAN.

-          Komputer/laptop untuk mengakses gambar/video dari ip camera melalui jaringan LAN, WAN or Internet

-          Koneksi Internet jika diperlukana (untuk sekolah yang jaraknya lebih jauh).

  1. B. Software Application (aplikasi perangkat lunak)

-          Aplikasi Web browser yang mendukung untuk mengakses gambar/video di ip camera pada tahap open class.

-          Aplikasi Google docs atau microsoft one note untuk mendiskusikan hasil dari pengamatan pada saat open class.

-          Aplikasi Video conference seperti : skype, google talk, yahoo messenger untuk mendukung proses diskusi jarak jauh pada tahap see.


Gambar 3. Rancangan LS-MGMP berbasis TIK.

V. Desain LSBS dengan TIK

Implementasi TIK pada LSBS lebih sederhana dan murah karena menggunakan jaringan LAN yang dihubungkan antara kelas untuk memonitor proses open class.

  1. Hardware(Perangkat Keras)

-          Ip camera yang dilengkapi dengan microphone dipasang di ruangan kelas yang akan digunakan untuk open class. (Minimal 4 untuk tiap sudut)

-          Hub/ swicth untuk jejaring LAN

-          komputer/laptop untuk mengakses ip camera melalui LAN

semua peralatan dihubungkan melaui kabel jaringan atau jaringan tanpa kabel sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.

  2. Application (Aplikasi)

-          Web browser yang mendukung untuk mengakses ip camera.

-          microsoft one note untuk diskusi.

Gambar 4. Rancangan LSBS berbasis TIK.


VI. Penutup

Dengan penerapan TIK pada LS-MGMP dan LSBS diharapkan dapat meningkatkan proses belajar yang dilakukan pada saat open class. Kegiatan belajar mengajar yang menjadi tanggungjawab guru dan para siswa tidak terganggu dengan kegiatan pengamatan, karena pengamatan dilakukan diruang yang berbeda. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh MGMP dan sekolah adalah kemauan dan kesiapan untuk menyiapkan fasilitas pendukung untuk implementasi dari LSBS TIK dan LS-MGMP TIK.


Daftar Pustaka

[1]        Yosida, M., Lesson Study : A Case Study of a Japanese Approach to Improving Instruction Through School-Based Teacher Development, University of Chicago, 1999.

[2]        Clark M. P., Data Network,IP and the Internet, wiley 2003.

[3]        Santyasa I W, Implementasi Lesson Study dalam Pembelajaran, Universitas Pendidikan Ganesha, 2009.

[4]        PELITA, Panduan dan buku kerja pelatihan nasional Lesson Study, International Development Center of Japan (IDCJ), 2010.

[5]        Cisco System, Network Essentials for Small Businesses : A Step by Step Planning Guide, Cisco System Inc..