30 August 2012
Mardin
Widyaiswara LPMP Sulsel
A. Pendahuluan
Proses belajar formal yang diselenggarakan di sekolah bertujuan untuk menguasai sejumlah kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik, baik kognitif ( Pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotor (ketrampilan) sesuai dengan tingkatan pendidikannya. Untuk itu, peserta didik diarahkan pada kegiatan pembelajaran yang bisa membawa perubahan pada diri peserta didik secara terencana. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan, antara lain: pendidik, bahan / materi, berbagai sumber belajar, dan media pembelajaran.
Pendidik termasuk widyaiswara bukanlah satu-satunya sumber belajar, peserta didik atau peserta pendidikan dan pelatihan bisa belajar melalui media. Oleh karena itu, peserta didik dapat berinteraksi dengan media atau sumber belajar lain. Para pendidik dituntut untuk mampu memilih, membuat sendiri media yang sangat sederhana atau menggunakan media yang ada secara tepat, dan efisien. Semua yang ada di sekeliling kita adalah media, pertanyaannya sejauhmana kita bisa memanfaatkan benda yang ada di sekitar kita menjadi media yang tepat, sehingga pembelajaran berlangsung secara efektif dan mampu memberikan hasil yang maksimal.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan iman dan taqwa semakin mendorong pendidik untuk mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Misalnya memanfaatkan komputer, serta mengakses informasi melalui jaringan internet.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan menfasilitasi guru untuk dapat mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan. Merujuk dari aturan tersebut diatas yaitu PP Nomor 19 Tahun 2005 dan khususnya lagi Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru pasal 1 ayat 1 bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Salah satu kompetensi yang wajib dipenuhi guru adalah standar professional
Abstract: This classroom action research aims at increasing the motivation and speaking performance of the third year students of SMA Negeri 2 Makassar. The model applied was problem-based instruction utilizing picture/logo as the basis for classroom interaction. The use of picture in a problem-based instruction is expected to increase the students’ motivation to speak English and to improve their speaking performance and fluency. The research cycle started with intial assessment of the students’ speaking performance and barriers to speak English. This strategy encouraged the students to speak and express ideas in their groups and to comment and ask questions during the large group presentation. In the second cycle, the students chose the members of their groups since they asked for own group membership preference. The ability of the students to speak English indicated a significant improvement, an average of 1.14 score point increase (p <.0.5). The use of picture as a lead of the problem-based instruction encourages all students to speak English, overcomes the lack of ideas and worry of making mistakes when they are asked to speak English. It is therefore suggested that the use of picture/logo or emblem as a lead to a problem-based instruction be applied to encorage the SMA students to speak English.